Kamis, 25 Juli 2019

Pemerintah Buka Peluang Tambah Porsi Utang Bermata Uang China

Kementerian Keuangan buka kesempatan untuk meningkatkan bagian utang dalam mata uang China, renminbi. Sekarang utang Indonesia masih didominasi oleh dolar Amerika Serikat, Euro, serta Yen.

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu Loto Srinaita Ginting menjelaskan, utang berbentuk renminbi masih dibawah 1%, yakni 0,12% (2014), 0,10% (2015), 0,07% (2016), 0,06% (2017), 0,05% (2018), 0,04% (Juni 2019).



Ia menerangkan, faksinya akan lihat keuntungan utang Renminbi dibanding mata uang yang lain. Ada banyak alasan yang disaksikan, yakni dari bagian portofolio atau biaya efisiensinya.

"Kita kan punyai instrumen dolar AS, euro, sama yen ya. Kita dapat kalkulasi kelak kurang lebih ia itu masih bersaing tidak dibanding ini (Renminbi). Jika ia bersaing sebetulnya ada ruangan untuk kita dapat pakai," katanya di Energy Building, Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Simak juga: Gunakan Mata Uang China Memberikan keuntungan Indonesia, Tetapi ...

Alasan yang lain ialah kemampuan pasar Renminbi. Menurut dia harus disaksikan apa itu dapat sustainable, atau mungkin dengan kata lain suplainya tetap ada.

"Jika memang arah yang akan datang kemampuan pasarnya sustain, yang akan datang tetap ada, serta size-nya semakin dapat besar, itu dapat juga jadi alasan kami," tuturnya.

Di lain sisi, pemerintah memperhitungkan apa utang ini dapat dialirkan berbentuk rupiah. Bila itu dapat, tidak tutup peluang itu yang akan diambil pemerintah. Menurut dia banyak unsur yang perlu dieksplorasi untuk pelajari hal itu.

"Nah apa kita perlu renminbi akun, atau sebetulnya kita adanya sarana itu sebetulnya kita, istilahnya dengan gampang dapat langsung dapat berbentuk rupiah. Itu dapat juga jadi alasan," imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar