Minggu, 15 September 2019

Langkah supaya Anak Bijak serta Bertanggung Jawab Waktu Bermain Sosmed

Pemakai sosial media dapat dari semua usia, terhitung yang usianya masih dibawah 13 tahun. Berikut yang tidak jarang-jarang membuat beberapa orang tua cemas, sebetulnya si anak telah siap belum sich bermain sosial media.



Seseorang ibu bernama Jackie Goldschneider share narasi saat dia berbalas komentar dengan rekan sekelas anaknya yang masih SD. Awalannya, Goldschneider mempublikasikan photo waktu ia keluar malam. Begitu terkejutnya Goldschneider saat tahu si netizen ialah rekan sekolah putranya.

"Saya demikian ngeri sebab sudah bicara dengan seseorang anak lelaki mengenai malam liar saya. Di situlah saya bertanya-tanya berapakah umur termuda untuk mempunyai account sosial media?" tuturnya, diambil dari North Jersey.

Goldschneider bertanya-tanya bagaimana orangtua dapat memandang apa anak mereka telah siap bermain sosial media. Lalu, bagaimana triknya supaya orangtua dapat membuat anaknya bertanggungjawab saat bermain sosial media. Hmm, Bunda punyai pertanyaan sama dengan Goldschneider?

Nah, psikolog remaja, Dr.Anne Rothenberg merekomendasikan supaya orangtua tunda anaknya sepanjang mungkin untuk mempunyai account sosial media. Demikian orangtua meluluskan anak mempunyai account sosial media sendiri, ada langkah untuk menyiapkan mereka supaya lebih bijak serta bertanggungjawab saat ber-medsos.

Rothenberg menjelaskan, beberapa sosial media seperti Instagram, mewajibkan pemakainya berumur minimum 13 tahun. Tetapi sebenarnya, beberapa anak yang usianya lebih kecil telah punyai account Instagram sendiri.

Contoh anak main sosmed/ Photo: Thinkstock"Dibawah umur 12 tahun, terdapat beberapa fakta kenapa seseorang anak tidak bisa mempunyai account sosmed sendiri. Diantaranya, beberapa anak biasanya belum mempunyai kontrol impuls untuk memonitor apa yang mereka 'pajang' di sosial media. Lalu mereka belum punyai potensi untuk menggambarkan apa yang mereka lihat serta belum mempunyai kedewasaan untuk mengatasi negativitas yang mungkin ditemui," tutur Rothenberg.

Contohnya, Bun, beberapa anak senang menjelaskan beberapa hal tanpa ada berpikir terlebih dulu. Karena itu, tidak jarang-jarang anak mengupload suatu yang bisa jadi tidak patut. Karena itu, Rothenberg merekomendasikan orangtua memperhitungkan beberapa unsur saat memandang apa anak telah siap memilki account sosmed sendiri.

"Yang penting, orangtua harus mem-follow account anak mereka serta rekan anak mereka. Yakinkan anak memahami benar tidak untuk share hal yang privacy di sosial media. Peringatkan juga anak untuk tidak asal-asalan mengupload content sebab apa yang diupload di sosmed berbentuk 'abadi'," imbuhnya.

Tidak kalah penting, ajari anak bagaimana memberi respon kekecewaannya. Ya, sebab semuanya di sosmed bisa jadi membuat satu orang sedih. Bila anak jengkel, meminta mereka mengungkapkan perasaannya pada Bunda atau orang seputar, jangan malah sharing di sosmed sebab dapat memperkeruh kondisi. Ajari anak tidak bereaksi terlalu berlebih saat ada suatu yang tidak mengenakkan mereka temukan di sosmed.

"Pokoknya pengawasan orangtua penting. Tetap beri pendampingan pada anak serta jadilah rekan anak yang menyenangkan di sosmed. Hingga, anak tidak merasakan seperti Anda ialah satpam, tetapi temannya," papar Rothenberg.

Waktu lalu, Anna Surti Ariani, psikolog anak serta remaja dari Klinik Terintegrasi Fakultas Psikologo Kampus Indonesia, menjelaskan, saat terkena beberapa informasi negatif terhitung di sosmed, otak anak akan kerja serta menaruh informasi itu.

"Nah, satu waktu otak akan me-recall memori-memori negatif itu. Ini dapat berefek negatif pada tumbuh kembang anak. Pikirkan, pada saat anak belum mempunyai filter yang baik mereka harus terima beberapa informasi yang sifatnya radikal. Bila satu waktu anak hadapi oleh permasalahan, data berikut yang diambil untuk pemecahan permasalahan," kata wanita yang karib dipanggil Nina ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar